ORANG YANG MENYENDIRI, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan.
Ini adalah kalimat yang ditulis oleh Salomo (Sulaiman).
Mengawali dari pemikiran terhadap 'orang yang menyendiri' saya jadi teringat akan kehidupan seniman. Seniman yang sedang mencari ide, inspirasi, cenderung mengasingkan dirinya agar mendapat apa yang diingikannya dari hasil ide. Situasi menyendiri dalam pikiran yang fokus terhadap sesuatu. Jangan coba-coba mendekati atau mengganggu konsentrasi seniman apabila wangsit sedang menghampiri kalau tidak mau disambit.
Menyendiri dalam konteks di atas yang di maksud oleh Salomo, memang menggambarkan kondisi yang negatif. Orang-orang yang penyendiri cenderung introvert yaitu bersikap dan bertindak menurut pikiran diri sendiri tanpa peduli akan orang lain /Kamus Serapan Asing, JS.Badudu, hal.161; adalah orang sensitif di mana amarah cenderung meledak-ledak atau bahkan diam namun menyimpan dendam karena hati yang terusik.
Menyendiri karena sensitif atau sikap introvert bukanlah suatu sifat pendiam yang positif ataupun rendah hati. Bahkan sifat menarik diri dari lingkungan ini lebih tepat dikatakan sifat tinggi hati, congkak dan mau menang sendiri sebab itdak mampu menerima pertimbangan atau kritikan bahkan masukan dari lawan bicara, menganggap diri lebih benar dari pada menerima perkataan lawan bicara.
Berbeda dengan sikap 'menyendiri' yang di sebut 'retret'. Retret adalah sikap mengundurkan diri dari orang ramai untuk bertenang-tenang atau menenangkan batin /KSA, JSB, hal.306.
Menyendiri di sini adalah mengkondisikan pemikiran sebagai introspeksi diri agar menjadi lebih baik. Biasanya menyendiri ini disertai doa bahkan puasa atau cenderung ke arah kerohanian.
Kita ingat pertapa. Pertapa adalah orang yang mendisiplinkan dirinya sedemikian rupa terhadap pemikiran dan keinginan tubuh. Pertapa juga membutuhkan situasi tenang tanpa keramaian sehingga lebih cenderung menyendiri. Menyendiri pada pertapa berkonsep lahir dan bathin. Pertapa dalam kesendiriannya mempunyai suatu tujuan terhadap pencarian diri dan ilmu tertentu.
Apakah Anda sedang dalam kondisi menyendiri? Menyendiri yang bagaimana? Ingatlah, pemikiran yang terbuka terhadap segala bentuk pemikiran dari luar tubuh yang membuat kita berkecil hati, kecewa, amarah, dendam, sakit hati, bukanlah sikap yang baik untuk membuat kita menyendiri, sebab dapat menimbulkan dendam, luka dan semangat yang patah. Namun apabila Anda menyendiri karena alasan tertentu agar meningkatkan hidup lebih baik adalah sikap menyendiri yang positif disertai batasan waktu tertentu dan kembali kepada kehidupan bersosial yang normal.
Namun, alangkah baiknya apabila kita memberi waktu 'menyendiri' dalam satu hari untuk melakukan perenungan-perenungan yang baik yang terjadi pada hari itu dan harapan yang baik untuk hari esok. Dengan dilakukannya perenungan yang mengawali hari dan mengakhiri malam kita seakan mempunyai diari yang tertulis dalam bathin, suatu rambu-rambu yang mengajari diri sendiri untuk hidup bijaksana dan berhikmat. Dengan demikian kita mngawali suatu hari yang baru dan semangat yang baru pula. Selamat menikmati hidup.
Sabtu, 28 Januari 2012
Sabtu, 21 Januari 2012
APAKAH LUKA MERUPAKAN KONSEKUENSI DARI CINTA?
APAKAH LUKA MERUPAKAN KONSEKUENSI DARI CINTA?
by Nancy Meinintha Brahmana on Thursday, 19 January 2012 at 08:30
Suatu judul yang panjang diakhiri dengan tanda tanya. Artikel ini memunculkan dua buah topik yang sebenarnya bertolak belakang namun sebagian manusia membawanya sebagai pasangan yang saling bergandengan tangan. Topik yang pertama adalah LUKA dan yang kedua adalah CINTA. Apakah keduanya dapat kita satukan ataukah keduanya berjalan sendiri? Hari ini kita mencoba untuk membahasnya secara sederhana.
LUKA, secara harafiah mempunyai arti: cedera pada kulit karena terkena benda tajam, dsb /Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal.436. Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa yang mendapat perasaan terluka dan sakit perih akibat benda yang mampu membuat luka sehingga kemungkinan mengeluarkan darah adalah kulit. Kulit diciptakan Tuhan sebagai indera perasa tubuh. LUKA adalah bentuk kata benda. Suatu benda dapat terlihat atau tidak terlihat. Luka pada kulit adalah benda yang dapat dilihat.
CINTA, mempunyai arti : perasaan sayang sekali, suka benar /KBBI, hal.166. CINTA dapat menjadi kata benda ataupun kata kerja.
Tuhan menciptakan manusia untuk dapat mencinta, mencintai dan terluka. Mencintai seseorang yang berarti mempunyai perasaan sayang sekali, suka benar kepada seseorang tersebut dapat mempengaruhi seluruh aspek hidup dan perilaku kehidupan seseorang. Bahkan orang jahat sekalipun apabila terkena cinta maka yang jahat dapat berubah menjadi baik. Seorang anak yang nakal yang tidak pernah merasakan cinta keluarga dapat berubah kehidupannya apabila mendapatkan cinta dari manusia. CINTA adalah kata lain dari KASIH. Cinta dan kasih bagaikan udara yang tiada terpisahkan. Bagaimana manusia dapat mencintai apabila tidak ada kasih? Atau, bagaimana ia dapat mengasihi apabila tidak disertai cinta? Lalu, apakah itu KASIH yang sebenarnya? ALKITAB menuliskan penjabaran tentang KASIH sebagai berikut: " Kasih itu sabar, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan, tidak bersukacita karena ketidakadilan, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." KASIH adalah landasan, alas, dasar dari CINTA. Di luar konteks ini, apa yang diperbuat oleh manusia yang dikatakan cinta kepadanya bukanlah cinta namun egoisme semata-mata. Kasih tinggal tetap, tidak digoyahkan oleh waktu. Kasih adalah dasar yang kuat sehingga tidak mampu mengguncangkan hati untuk tidak mengasihi.
Manusia yang sedang dalam keadaan mengasihi atau mencintai seseorang tidak akan melakukan kejahatan ataupun melukai seseorang yang dikasihinya. Dapat dikatakan pula manusia yang mempunyai kasih tidak akan melukai orang lain. Namun orang yang melukai orang lain dengan mengatakan cinta atau kasih, dapat dikatakan kebohonganlah yang sedang dikatakannya.
Dapatkah manusia terluka? Tentu saja manusia dapat terluka. Manusia adalah benda hidup yang bergerak dan bersentuhan dengan benda lain. Sentuhan tersebut dapat kemungkinan menjadi luka pada tubuh. Lalu, dapatkah HATI terluka? Keadaan hati terluka adalah suatu keadaan, rangsangan, yang dipicu oleh pemikiran serta pemahaman kata-kata yang masuk dalam diri seseorang, yang menyakitkan, apabila ia menerimanya untuk diambil menjadi bagian yang disimpan ataupun dinikmati dalam perasaan pemikirannya. Yang terluka adalah PERASAAN. Perasaan adalah pengembangan sikap dalam pemikiran manusia yang disertai pola pikir. Segala pemikiran manusia yang bertumbuh dari kecil membentuk jiwa dan pola pikir seseorang. Jiwa dan perasaan membentuk suara hati manusia. Manusia menyerap begitu banyak kondisi dalam lingkungan kehidupannya. Kondisi yang diserap diperoleh dari luar tubuhnya masuk ke dalam pemikirannya. Segala sesuatu dalam pemikiran manusia adalah milik manusia tersebut namun manusia itu dapat menolak pemikiran yang datangnya dari luar untuk tinggal tetap di dalam pemikirannya.
Apakah perasaan manusia dapat terluka? Tentu saja perasaan manusia dapat terluka apabila kondisi yang datangnya dari luar tersebut dia terima sebagai rangsangan yang menyukakan tubuhnya atau pemikirannya. Apakah manusia dapat menolak perasaan luka dalam dirinya? Tentu saja manusia dapat menolak setiap rangsangan atau kondisi yang berada di luar tubuhnya untuk dapat masuk ke dalam ruang pemikirannya. Lalu bagaimana sikap kita apabila itu terjadi? Manusia mempunyai impuls yang cepat yang di terima dari luar tubuhnya, namun sesaat pula manusia dapat menolak serangan yang datang untuk ke luar dan tidak boleh menetap dalam ruang pemikirannya, oleh sebab pola pikir yang bertumbuh.
Perasaan luka yang datang dari cinta bukanlah perasaan yang sehat. Apabila ada perbedaan pendapat ataupun cara pandang hendaknya diungkapkan menurut pola pikir dan pemahaman yang baik. Manusia yang berkorban bagi orang lain tidak akan merasa terluka atas pengorbanan yang telah diberikannya sebab yang dilakukan manusia tersebut berlandaskan kasih. Manusia yang menyimpan luka terhadap orang lain bukanlah sikap dari cinta ataupun kasih. Cinta ataupun kasih dapat mengenyahkan ataupun menutupi begitu banyak kesalahan sehingga manusia tidak perlu merasa terluka oleh karena cinta. CINTA TIDAK MELIHAT LUKA. Luka bukanlah konsekuensi dari cinta. Apabila engkau mencintai, mencintailah tanpa terluka. Apabila engkau mencintai, mencintailah tanpa melukai.
Nancy Brahmana, 19 Januari 2012
by Nancy Meinintha Brahmana on Thursday, 19 January 2012 at 08:30
Suatu judul yang panjang diakhiri dengan tanda tanya. Artikel ini memunculkan dua buah topik yang sebenarnya bertolak belakang namun sebagian manusia membawanya sebagai pasangan yang saling bergandengan tangan. Topik yang pertama adalah LUKA dan yang kedua adalah CINTA. Apakah keduanya dapat kita satukan ataukah keduanya berjalan sendiri? Hari ini kita mencoba untuk membahasnya secara sederhana.
LUKA, secara harafiah mempunyai arti: cedera pada kulit karena terkena benda tajam, dsb /Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal.436. Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa yang mendapat perasaan terluka dan sakit perih akibat benda yang mampu membuat luka sehingga kemungkinan mengeluarkan darah adalah kulit. Kulit diciptakan Tuhan sebagai indera perasa tubuh. LUKA adalah bentuk kata benda. Suatu benda dapat terlihat atau tidak terlihat. Luka pada kulit adalah benda yang dapat dilihat.
CINTA, mempunyai arti : perasaan sayang sekali, suka benar /KBBI, hal.166. CINTA dapat menjadi kata benda ataupun kata kerja.
Tuhan menciptakan manusia untuk dapat mencinta, mencintai dan terluka. Mencintai seseorang yang berarti mempunyai perasaan sayang sekali, suka benar kepada seseorang tersebut dapat mempengaruhi seluruh aspek hidup dan perilaku kehidupan seseorang. Bahkan orang jahat sekalipun apabila terkena cinta maka yang jahat dapat berubah menjadi baik. Seorang anak yang nakal yang tidak pernah merasakan cinta keluarga dapat berubah kehidupannya apabila mendapatkan cinta dari manusia. CINTA adalah kata lain dari KASIH. Cinta dan kasih bagaikan udara yang tiada terpisahkan. Bagaimana manusia dapat mencintai apabila tidak ada kasih? Atau, bagaimana ia dapat mengasihi apabila tidak disertai cinta? Lalu, apakah itu KASIH yang sebenarnya? ALKITAB menuliskan penjabaran tentang KASIH sebagai berikut: " Kasih itu sabar, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan, tidak bersukacita karena ketidakadilan, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." KASIH adalah landasan, alas, dasar dari CINTA. Di luar konteks ini, apa yang diperbuat oleh manusia yang dikatakan cinta kepadanya bukanlah cinta namun egoisme semata-mata. Kasih tinggal tetap, tidak digoyahkan oleh waktu. Kasih adalah dasar yang kuat sehingga tidak mampu mengguncangkan hati untuk tidak mengasihi.
Manusia yang sedang dalam keadaan mengasihi atau mencintai seseorang tidak akan melakukan kejahatan ataupun melukai seseorang yang dikasihinya. Dapat dikatakan pula manusia yang mempunyai kasih tidak akan melukai orang lain. Namun orang yang melukai orang lain dengan mengatakan cinta atau kasih, dapat dikatakan kebohonganlah yang sedang dikatakannya.
Dapatkah manusia terluka? Tentu saja manusia dapat terluka. Manusia adalah benda hidup yang bergerak dan bersentuhan dengan benda lain. Sentuhan tersebut dapat kemungkinan menjadi luka pada tubuh. Lalu, dapatkah HATI terluka? Keadaan hati terluka adalah suatu keadaan, rangsangan, yang dipicu oleh pemikiran serta pemahaman kata-kata yang masuk dalam diri seseorang, yang menyakitkan, apabila ia menerimanya untuk diambil menjadi bagian yang disimpan ataupun dinikmati dalam perasaan pemikirannya. Yang terluka adalah PERASAAN. Perasaan adalah pengembangan sikap dalam pemikiran manusia yang disertai pola pikir. Segala pemikiran manusia yang bertumbuh dari kecil membentuk jiwa dan pola pikir seseorang. Jiwa dan perasaan membentuk suara hati manusia. Manusia menyerap begitu banyak kondisi dalam lingkungan kehidupannya. Kondisi yang diserap diperoleh dari luar tubuhnya masuk ke dalam pemikirannya. Segala sesuatu dalam pemikiran manusia adalah milik manusia tersebut namun manusia itu dapat menolak pemikiran yang datangnya dari luar untuk tinggal tetap di dalam pemikirannya.
Apakah perasaan manusia dapat terluka? Tentu saja perasaan manusia dapat terluka apabila kondisi yang datangnya dari luar tersebut dia terima sebagai rangsangan yang menyukakan tubuhnya atau pemikirannya. Apakah manusia dapat menolak perasaan luka dalam dirinya? Tentu saja manusia dapat menolak setiap rangsangan atau kondisi yang berada di luar tubuhnya untuk dapat masuk ke dalam ruang pemikirannya. Lalu bagaimana sikap kita apabila itu terjadi? Manusia mempunyai impuls yang cepat yang di terima dari luar tubuhnya, namun sesaat pula manusia dapat menolak serangan yang datang untuk ke luar dan tidak boleh menetap dalam ruang pemikirannya, oleh sebab pola pikir yang bertumbuh.
Perasaan luka yang datang dari cinta bukanlah perasaan yang sehat. Apabila ada perbedaan pendapat ataupun cara pandang hendaknya diungkapkan menurut pola pikir dan pemahaman yang baik. Manusia yang berkorban bagi orang lain tidak akan merasa terluka atas pengorbanan yang telah diberikannya sebab yang dilakukan manusia tersebut berlandaskan kasih. Manusia yang menyimpan luka terhadap orang lain bukanlah sikap dari cinta ataupun kasih. Cinta ataupun kasih dapat mengenyahkan ataupun menutupi begitu banyak kesalahan sehingga manusia tidak perlu merasa terluka oleh karena cinta. CINTA TIDAK MELIHAT LUKA. Luka bukanlah konsekuensi dari cinta. Apabila engkau mencintai, mencintailah tanpa terluka. Apabila engkau mencintai, mencintailah tanpa melukai.
Nancy Brahmana, 19 Januari 2012
SERAI, SATU LAGI DARI RUMPUT BERTUAH
Siapa yang tidak mengenal Serai? Hampir semua kita mengenal serai terutama ibu-ibu yang berada di dapur. Penulis sangat akrab dengan keberadaan Serai di rumah karena terbiasa digunakan untuk air mandi, memoles batang serai ke tubuh agar tubuh menjadi hangat dan tulang-tulang tidak sakit dan meminum air serai. Ternyata, selain untuk masak serai juga sangat bermanfaat untuk hal yang lain. Mari kita bahas bersama tentang Serai.
SERAI ( CYMBOPOGON NARDUS )
Termasuk tanaman rumput-rumputan. Serai menyukai lahan yang berada di dekat air dengan tanah yang gembur. Perkembangbiakannya hanya melalui pemisahan akar.
Serai mengandung banyak sekali khasiat dan kegunaannya karena mengandung Minyak Asiri (geraniol, citronnelal), eugenol-metir eter, sitral, dipenten, kadinen, kadinol dan limonen. Kandungan ini membuat Serai dapat menjadi bahan kosmetik, pembuatan parfum dan obat-obatan.
Serai mengandung antioksidan yang tinggi sehingga dalam penelitian serai dapat mencegah kanker dalam tubuh. Mempunyai sifat detoksifikasi sehingga dapat di pakai sebagai obat gangguan pencernaan semisal diare dan nyeri lambung . Minyak Asiri yang hangat membuat serai dapat menjadi obat analgesik dan bermanfaat pada sistem saraf, dapat menjadi obat pegal, ngilu, nyeri otot, sendi, tulang, sakit kepala, mengurangi rasa mual dan mengurangi nyeri haid serta menurunkan tekanan darah.
Di Pasar Modern Bumi Serpong Damai tempat saya, harga Serai Jumbo cukup mahal. satu ikat yang berisi 3-4 batang Serai Rp.2000 namun habis tidak memakan waktu lama. Saya tidak tahu apakah karena mereka tahu khasiat dari pada Serai atau karena melihat kondisi Serai Jumbo yang menggemaskan. Melihat sisi baiknya yaitu kegunaannya sebagai kebutuhan industri yang pasti memerlukan cukup banyak Serai dan tidak ada sisi buruknya, saya mengajak saudara-saudara juga untuk membudidayakan Serai dengan profesional, mana tau....
SERAI ( CYMBOPOGON NARDUS )
Termasuk tanaman rumput-rumputan. Serai menyukai lahan yang berada di dekat air dengan tanah yang gembur. Perkembangbiakannya hanya melalui pemisahan akar.
Serai mengandung banyak sekali khasiat dan kegunaannya karena mengandung Minyak Asiri (geraniol, citronnelal), eugenol-metir eter, sitral, dipenten, kadinen, kadinol dan limonen. Kandungan ini membuat Serai dapat menjadi bahan kosmetik, pembuatan parfum dan obat-obatan.
Serai mengandung antioksidan yang tinggi sehingga dalam penelitian serai dapat mencegah kanker dalam tubuh. Mempunyai sifat detoksifikasi sehingga dapat di pakai sebagai obat gangguan pencernaan semisal diare dan nyeri lambung . Minyak Asiri yang hangat membuat serai dapat menjadi obat analgesik dan bermanfaat pada sistem saraf, dapat menjadi obat pegal, ngilu, nyeri otot, sendi, tulang, sakit kepala, mengurangi rasa mual dan mengurangi nyeri haid serta menurunkan tekanan darah.
Di Pasar Modern Bumi Serpong Damai tempat saya, harga Serai Jumbo cukup mahal. satu ikat yang berisi 3-4 batang Serai Rp.2000 namun habis tidak memakan waktu lama. Saya tidak tahu apakah karena mereka tahu khasiat dari pada Serai atau karena melihat kondisi Serai Jumbo yang menggemaskan. Melihat sisi baiknya yaitu kegunaannya sebagai kebutuhan industri yang pasti memerlukan cukup banyak Serai dan tidak ada sisi buruknya, saya mengajak saudara-saudara juga untuk membudidayakan Serai dengan profesional, mana tau....
Selasa, 17 Januari 2012
EMANSIPASI WANITA
by Nancy Meinintha Brahmana on Tuesday, 4 October 2011 at 11:55
EMANSIPASI WANITA adalah proses pembebasan diri wanita dari kedudukan yang semula dianggap rendah dibandingkan lelaki; persamaan hak derajat sesuai dengan pria. /Kamus Besar Bahasa Indonesia, KASHIKO, hal 214./
Hak artinya milik, kepunyaan, benar, kekuasaan untuk melakukan atau berbuat sesuatu; wewenang menurut hukum. /ibid, 268/
Derajat artinya martabat, pangkat, tingkatan. /ibid, 190/
Di Indonesia emansipasi wanita dikumandangkan oleh Ibu Kartini. Di mana beliau menginginkan para wanita berhak untuk mendapat pengajaran, pendidikan agar tidak menjadi bodoh.
Proses pembebasan diri.
Sebelum gerakan emansipasi dikumandangkan, sedari dulu wanita menduduki tempat yang lebih rendah dibandingkan lelaki sehingga wanita dapat diperlakukan semena-mena, menjadi selir kesekian, gundik, babu, budak yang suaranya tidak didengar dan tidak mendapat pendidikan yang layak. Bahkan sebagai istri wanita merasa terkekang karena tidak dipenuhi hak hidupnya sebagai seorang manusia dan suaranya tidak di dengar.
Maka wanita mengumandangkan diri bahwa merekapun mempunyai hak dan derajat sesuai dengan pria. Wanita mengambil bagian dari kehidupan pria dari segi pekerjaan, pemikiran dan rumah tangga.
Emansipasi wanita yang diharapkan oleh Ibu Kartini bertujuan agar wanita mendapat pengajaran dan pendidikan yang cukup baik sehingga melaluinya wanita tidak bodoh dan dengan bijaksana dapat membantu pria di dalam kehidupannya. Wanita sebagai tangan kanan pria harus memiliki hikmat dan bijaksana yang sangat mulia sehingga pria dapat bekerja secara optimal tanpa merasa tersudut oleh wanita.
Manusia mempunyai persamaan derajat di mata Tuhan, dimana Tuhan tidak membedabedakan pria dan wanita di dalam pemberian berkat, pengabulan doa, kasih dan juga keselamatan. Sehingga Tuhan menginginkan manusia sebagai manusia yang mampu mengasihi satu sama lain seperti dirinya sendiri.
Manusia mempunyai hak dan derajat yang sama dimata hukum, sehingga pria tidak boleh melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap wanita, dan negara wajib menghukum warga negaranya yang menyakiti manusia lain dalam pandangan hukum.
Emansipasi wanita tidaklah menobatkan wanita sebagai presiden atau ketua MPR atau DPR. Emansipasi wanita tidaklah melantik wanita untuk menjadi pilot tempur. Emansipasi lebih difokuskan kepada kebijaksanaan dan hikmat sehingga kemuliaan wanita terpancar dan menjadikan pria semakin produktif dalam mengolah 'tanahnya'.
Pekerjaan-pekerjaan yang dapat dilakukan wanita tanpa mengusik pekerjaan pria adalah :
Guru sekolah, guru musik, membuka butik atau toko dirumah, membuka bisnis dirumah, praktek dokter dirumah, arsitek paruh waktu, seniman, menjahit, merangkai, membuka les dirumah, salon, mengajar masak, konsultan yang membuka praktek dirumah dan segala sesuatu yang tidak membuat wanita harus meninggalkan rumah dari pagi sampai malam.
Akibat-akibat yang ditimbulakan oleh emansipasi yang salah adalah :
1. stres : bukan hanya stres terhadap diri sendiri atau pekerjaan tetapi juga merembet ke pasangan dan ke anak hingga keluarga besar. Stres dapat memicu kemarahan.
2. keinginan seks yang menurun : pasangan wanita akan mengalami penurunan seks ketika letih dan mengakibatkan terjadinya perasaan jauh kepada suami sehingga kurang melayani suami.
3. perhatian terhadap anak menurun : anak-anak akan lebih susah diberitahu. Pasangan yang bekerja membuat anak bertingkah untuk meminta perhatian lebih. Tuntutan-tuntutan ini dapat memicu terjadinya kesalahan pada orang tua dan anak.
4. kurang waktu ibadah : pasangan yang bekerja tidak melakukan ibadah keluarga karena keletihan, sehingga tidak mempunyai jam-jam doa.
5. rohani menurun : pekerjaan yang menumpuk membuat stres para pegawai sehingga sering sekali berbincang-bincang atau berkumpul yang tidak perlu. Cerita-cerita yang tidak perlu bahkan menjurus ke pornografi sehingga hati tidak lagi diasah untuk berkomunikasi batin yang benar dan tidak memuliakan Tuhan.
6. konsumtif : wanita yang bekerja meningkatkan keinginan-keinginan untuk memiliki sesuatu karena memiliki gaji sendiri.
7. egois : wanita menjadi egois dan tidak mau mengalah karena gaji yang lebih besar atau lebih pintar atau pangkat yang lebih tinggi.
8. perceraian : stres, perasaan letih, perasaan tidak dibutuhkan dan keluhan-keluhan akan terdengar diluar rumah sehingga dapat menjadi jerat bagi si iblis sebagai perselingkuhan.
Masih banyak hal lain yang dapat kita lihat sebagai akibat emansipasi yang salah. Itulah sebabnya wanita juga harus memikirkan dari dini sekolah apakah yang dapat dia masuki agar segala ilmu yang didapatnya boleh berguna baik bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan Tuhan.
Nancy Meinintha Brahmana,
4 Oktober 2011
EMANSIPASI WANITA adalah proses pembebasan diri wanita dari kedudukan yang semula dianggap rendah dibandingkan lelaki; persamaan hak derajat sesuai dengan pria. /Kamus Besar Bahasa Indonesia, KASHIKO, hal 214./
Hak artinya milik, kepunyaan, benar, kekuasaan untuk melakukan atau berbuat sesuatu; wewenang menurut hukum. /ibid, 268/
Derajat artinya martabat, pangkat, tingkatan. /ibid, 190/
Di Indonesia emansipasi wanita dikumandangkan oleh Ibu Kartini. Di mana beliau menginginkan para wanita berhak untuk mendapat pengajaran, pendidikan agar tidak menjadi bodoh.
Proses pembebasan diri.
Sebelum gerakan emansipasi dikumandangkan, sedari dulu wanita menduduki tempat yang lebih rendah dibandingkan lelaki sehingga wanita dapat diperlakukan semena-mena, menjadi selir kesekian, gundik, babu, budak yang suaranya tidak didengar dan tidak mendapat pendidikan yang layak. Bahkan sebagai istri wanita merasa terkekang karena tidak dipenuhi hak hidupnya sebagai seorang manusia dan suaranya tidak di dengar.
Maka wanita mengumandangkan diri bahwa merekapun mempunyai hak dan derajat sesuai dengan pria. Wanita mengambil bagian dari kehidupan pria dari segi pekerjaan, pemikiran dan rumah tangga.
Emansipasi wanita yang diharapkan oleh Ibu Kartini bertujuan agar wanita mendapat pengajaran dan pendidikan yang cukup baik sehingga melaluinya wanita tidak bodoh dan dengan bijaksana dapat membantu pria di dalam kehidupannya. Wanita sebagai tangan kanan pria harus memiliki hikmat dan bijaksana yang sangat mulia sehingga pria dapat bekerja secara optimal tanpa merasa tersudut oleh wanita.
Manusia mempunyai persamaan derajat di mata Tuhan, dimana Tuhan tidak membedabedakan pria dan wanita di dalam pemberian berkat, pengabulan doa, kasih dan juga keselamatan. Sehingga Tuhan menginginkan manusia sebagai manusia yang mampu mengasihi satu sama lain seperti dirinya sendiri.
Manusia mempunyai hak dan derajat yang sama dimata hukum, sehingga pria tidak boleh melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap wanita, dan negara wajib menghukum warga negaranya yang menyakiti manusia lain dalam pandangan hukum.
Emansipasi wanita tidaklah menobatkan wanita sebagai presiden atau ketua MPR atau DPR. Emansipasi wanita tidaklah melantik wanita untuk menjadi pilot tempur. Emansipasi lebih difokuskan kepada kebijaksanaan dan hikmat sehingga kemuliaan wanita terpancar dan menjadikan pria semakin produktif dalam mengolah 'tanahnya'.
Pekerjaan-pekerjaan yang dapat dilakukan wanita tanpa mengusik pekerjaan pria adalah :
Guru sekolah, guru musik, membuka butik atau toko dirumah, membuka bisnis dirumah, praktek dokter dirumah, arsitek paruh waktu, seniman, menjahit, merangkai, membuka les dirumah, salon, mengajar masak, konsultan yang membuka praktek dirumah dan segala sesuatu yang tidak membuat wanita harus meninggalkan rumah dari pagi sampai malam.
Akibat-akibat yang ditimbulakan oleh emansipasi yang salah adalah :
1. stres : bukan hanya stres terhadap diri sendiri atau pekerjaan tetapi juga merembet ke pasangan dan ke anak hingga keluarga besar. Stres dapat memicu kemarahan.
2. keinginan seks yang menurun : pasangan wanita akan mengalami penurunan seks ketika letih dan mengakibatkan terjadinya perasaan jauh kepada suami sehingga kurang melayani suami.
3. perhatian terhadap anak menurun : anak-anak akan lebih susah diberitahu. Pasangan yang bekerja membuat anak bertingkah untuk meminta perhatian lebih. Tuntutan-tuntutan ini dapat memicu terjadinya kesalahan pada orang tua dan anak.
4. kurang waktu ibadah : pasangan yang bekerja tidak melakukan ibadah keluarga karena keletihan, sehingga tidak mempunyai jam-jam doa.
5. rohani menurun : pekerjaan yang menumpuk membuat stres para pegawai sehingga sering sekali berbincang-bincang atau berkumpul yang tidak perlu. Cerita-cerita yang tidak perlu bahkan menjurus ke pornografi sehingga hati tidak lagi diasah untuk berkomunikasi batin yang benar dan tidak memuliakan Tuhan.
6. konsumtif : wanita yang bekerja meningkatkan keinginan-keinginan untuk memiliki sesuatu karena memiliki gaji sendiri.
7. egois : wanita menjadi egois dan tidak mau mengalah karena gaji yang lebih besar atau lebih pintar atau pangkat yang lebih tinggi.
8. perceraian : stres, perasaan letih, perasaan tidak dibutuhkan dan keluhan-keluhan akan terdengar diluar rumah sehingga dapat menjadi jerat bagi si iblis sebagai perselingkuhan.
Masih banyak hal lain yang dapat kita lihat sebagai akibat emansipasi yang salah. Itulah sebabnya wanita juga harus memikirkan dari dini sekolah apakah yang dapat dia masuki agar segala ilmu yang didapatnya boleh berguna baik bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan Tuhan.
Nancy Meinintha Brahmana,
4 Oktober 2011
Senin, 16 Januari 2012
YANG UJUNGNYA LURUS
Sontak saya mengingat lukisan saya tentang Nabi Musa yang membelah Laut Tebereau di atas kanvas ukuran 1.50 x 90 cm, di lukis dengan cat minyak (Lukisan itu sekarang berada di kediaman Pdt. Miasi Sembiring Meliala, Taman Mini, Jakarta). Lukisan air yang bergelora itu belum menampakkan ujungnya bahkan belum memperlihatkan jalan setapak yang lurus dan mulus. Air masih berkobaran, tangan Musa yang satu terangkat ke langit satunya menunjuk laut dengan wajah memperlihatkan hati yang teguh dan siap. Lukisan yang diwarnai gelap menuju pagi dengan percikan air laut yang tinggi, namun nun, di ujung sana ada kilatan cahaya pagi menanti dan bayangan suatu pulau kecil, samar, hampir tidak terlihat namun ada terletak.
Saya tidak ingin menceritakan proses pembuatannya yang saat ini yakin tak mampu lagi melakukannya. Masa-masa menjadi pelukis seakan-akan berganti seperti pergantian periode. Yang ingin saya ceritakan bahkan bukanlah lukisan itu. Itu hanya 'preambule', sekapur sirih yang tidak penting dari suatu artikel pendek.
Ada tertulis sebagai berikut: Ada jalan yang di sangka lurus namun ujungnya menuju maut. Kehidupan. Memikirkan kehidupan tidak akan ada habisnya. Ketika berjalan ke pasar tadi pagi saya berkata dalam hati, "saya tidak akan dapat tumbuh tanpaMu". Saya berpikir, apabila saya adalah tumbuhan, pencipta saya bukan hanya Dia yang memberi saya air sehingga saya dapat bertumbuh, atau matahari sehingga saya dapat memproses makanan. Namun Ia juga yang menciptakan tanah, udara, bebatuan, nutrisi tanah, zat dalam air, akar, ruas-ruas akar, lapisan akar, lapisan batang, kulit, daun, getah, bekerjanya membawa makanan hingga ke pucuk, bunga, biji, bertumbuh, tinggi dan lain-lain, hingga tidak ada sebagian titikpun yang bukan pengaruh dari Pencipta saya yang tumbuhan ini.
Saya sangat terpengaruh dengan kata-kata bijak, hikmat dan bebal. Bijak dan hikmat adalah sikap yang beriringan bergandengan dan tidak dapat dipisahkan. Namun bebal adalah lawan kata dari kedua kata ini. Apakah bebal itu sebenarnya? Bebal adalah bentuk kata sifat. Dalam kamus Bahasa Indonesia arti bebal adalah: sukar mengerti, tidak cepat menanggapi sesuatu, tidak tajam pikiran dan bodoh. Di dalam Alkitab, kata bebal ditujukan kepada orang yang tidak memakai akal budi, mengulangi kebodohan, membenci pengetahuan, menyeru-nyerukan kebodohan, menista Tuhan, tidak berpengalaman dan tanpa iman. Bahkan dalam Alkitab berbahasa Perancis dipergunakan kata 'insense' yang berarti gila.
Seperti memakan potongan buah yang berbeda dalam satu piring. Beginilah tulisan ini di buat. Di awali dengan lukisan, tumbuhan dan bebal. Potongan buah ini akan saya jadikan salad agar dapat dinikmati.
Seperti lukisan tadi, begitulah hidup di mana kita harus berjalan ke satu masa yang tidak dapat dilihat di depan namun mempunyai keyakinan akan tujuan. Namun seperti air laut yang bergelora dan tidak langsung menunjukkan suatu jalan yang terbuka, itulah proses hidup. Proses hidup itu sesungguhnya bergelora, dipanjatkan dengan doa-doa yang tiada henti, harapan yang tiada berkesudahan. Apakah dengan menaikkan tangan Musa telah melihat suatu jalan? Apakah Musa tiada gentar ketika menunggu riak air menjadi bendungan? Terang yang terbersit di ujung pulau menanti. Bagaimana kita dapat sampai ke sana? Ketika umat akhirnya melalui Laut Teberau yang sudah terbelah itu, apakah mereka dapat berlari-lari ataukah sangat berhati-hati karena dasar laut yang ternyata, berpalung berbatu-batu? Bukankah mereka membawa serta juga anak-anak dan binatang-binatang dalam rombongan itu?
Hari ini di awali dengan pagi kala membuka mata dan melihat kita masih ada. Pada hari itu pula pagi memberi pilihan, bijak dan hikmat atau bebal. Kehidupan bebal adalah kehidupan yang sangat gampang, bahkan tidak memerlukan suatu pemikiran. Namun tanpa disadari ini adalah sikap dan perilaku yang di anut oleh banyak orang. Hikmat dan bijak berjaga-jaga di hati dan pikiran, namun bebal bagaikan pintu yang tiada mempunyai engsel. Hari yang dilewati mulus dan tanpa suatu kejadian yang berarti, namun apakah itu kehidupan yang lurus apabila kita tidak mengisinya dengan bertanggung jawab? Tidak ada orang memilih bebal. Namun itu akan terjadi apabila kita tidak menyadari bahwa Dia tidak hanya memberi pagi, siang dan malam, tidak hanya memberi makanan namun secara keseluruhan dari hidup lahir hingga mati. Tiada setitikpun dalam kehidupan manusia terlepas dari pengamatan Sang Pencipta. Waktu, masa yang dilewati dalam hembusan napas, hitungan detik dan degupan jantung bukanlah karya yang main-main dari Tuhan Allah.
Dalam lukisan itu, Nabi Musa berdiri di atas tebing yang lebih tinggi dari permukaan laut. Dengan demikian Musa dapat lebih mampu berdiri tegak dan bersiap mendapatkan guncangan, angin dan getaran yang mungkin terjadi pada saat itu. Begitu pula kita, iman adalah tebing yang tinggi di mana kaki kita berpijak sehingga dengan wajah siap dan hati yang teguh, tangan kita teracung memanjat doa dan harapan kita menuju terang di sana, ya, di sana di seberang, di mana kita masih harus kuat berjalan mengarungi palung dan bebatuan. Tidak mudah memang, namun teruslah berjuang.
Tawan, 16 Januari 2012
Saya tidak ingin menceritakan proses pembuatannya yang saat ini yakin tak mampu lagi melakukannya. Masa-masa menjadi pelukis seakan-akan berganti seperti pergantian periode. Yang ingin saya ceritakan bahkan bukanlah lukisan itu. Itu hanya 'preambule', sekapur sirih yang tidak penting dari suatu artikel pendek.
Ada tertulis sebagai berikut: Ada jalan yang di sangka lurus namun ujungnya menuju maut. Kehidupan. Memikirkan kehidupan tidak akan ada habisnya. Ketika berjalan ke pasar tadi pagi saya berkata dalam hati, "saya tidak akan dapat tumbuh tanpaMu". Saya berpikir, apabila saya adalah tumbuhan, pencipta saya bukan hanya Dia yang memberi saya air sehingga saya dapat bertumbuh, atau matahari sehingga saya dapat memproses makanan. Namun Ia juga yang menciptakan tanah, udara, bebatuan, nutrisi tanah, zat dalam air, akar, ruas-ruas akar, lapisan akar, lapisan batang, kulit, daun, getah, bekerjanya membawa makanan hingga ke pucuk, bunga, biji, bertumbuh, tinggi dan lain-lain, hingga tidak ada sebagian titikpun yang bukan pengaruh dari Pencipta saya yang tumbuhan ini.
Saya sangat terpengaruh dengan kata-kata bijak, hikmat dan bebal. Bijak dan hikmat adalah sikap yang beriringan bergandengan dan tidak dapat dipisahkan. Namun bebal adalah lawan kata dari kedua kata ini. Apakah bebal itu sebenarnya? Bebal adalah bentuk kata sifat. Dalam kamus Bahasa Indonesia arti bebal adalah: sukar mengerti, tidak cepat menanggapi sesuatu, tidak tajam pikiran dan bodoh. Di dalam Alkitab, kata bebal ditujukan kepada orang yang tidak memakai akal budi, mengulangi kebodohan, membenci pengetahuan, menyeru-nyerukan kebodohan, menista Tuhan, tidak berpengalaman dan tanpa iman. Bahkan dalam Alkitab berbahasa Perancis dipergunakan kata 'insense' yang berarti gila.
Seperti memakan potongan buah yang berbeda dalam satu piring. Beginilah tulisan ini di buat. Di awali dengan lukisan, tumbuhan dan bebal. Potongan buah ini akan saya jadikan salad agar dapat dinikmati.
Seperti lukisan tadi, begitulah hidup di mana kita harus berjalan ke satu masa yang tidak dapat dilihat di depan namun mempunyai keyakinan akan tujuan. Namun seperti air laut yang bergelora dan tidak langsung menunjukkan suatu jalan yang terbuka, itulah proses hidup. Proses hidup itu sesungguhnya bergelora, dipanjatkan dengan doa-doa yang tiada henti, harapan yang tiada berkesudahan. Apakah dengan menaikkan tangan Musa telah melihat suatu jalan? Apakah Musa tiada gentar ketika menunggu riak air menjadi bendungan? Terang yang terbersit di ujung pulau menanti. Bagaimana kita dapat sampai ke sana? Ketika umat akhirnya melalui Laut Teberau yang sudah terbelah itu, apakah mereka dapat berlari-lari ataukah sangat berhati-hati karena dasar laut yang ternyata, berpalung berbatu-batu? Bukankah mereka membawa serta juga anak-anak dan binatang-binatang dalam rombongan itu?
Hari ini di awali dengan pagi kala membuka mata dan melihat kita masih ada. Pada hari itu pula pagi memberi pilihan, bijak dan hikmat atau bebal. Kehidupan bebal adalah kehidupan yang sangat gampang, bahkan tidak memerlukan suatu pemikiran. Namun tanpa disadari ini adalah sikap dan perilaku yang di anut oleh banyak orang. Hikmat dan bijak berjaga-jaga di hati dan pikiran, namun bebal bagaikan pintu yang tiada mempunyai engsel. Hari yang dilewati mulus dan tanpa suatu kejadian yang berarti, namun apakah itu kehidupan yang lurus apabila kita tidak mengisinya dengan bertanggung jawab? Tidak ada orang memilih bebal. Namun itu akan terjadi apabila kita tidak menyadari bahwa Dia tidak hanya memberi pagi, siang dan malam, tidak hanya memberi makanan namun secara keseluruhan dari hidup lahir hingga mati. Tiada setitikpun dalam kehidupan manusia terlepas dari pengamatan Sang Pencipta. Waktu, masa yang dilewati dalam hembusan napas, hitungan detik dan degupan jantung bukanlah karya yang main-main dari Tuhan Allah.
Dalam lukisan itu, Nabi Musa berdiri di atas tebing yang lebih tinggi dari permukaan laut. Dengan demikian Musa dapat lebih mampu berdiri tegak dan bersiap mendapatkan guncangan, angin dan getaran yang mungkin terjadi pada saat itu. Begitu pula kita, iman adalah tebing yang tinggi di mana kaki kita berpijak sehingga dengan wajah siap dan hati yang teguh, tangan kita teracung memanjat doa dan harapan kita menuju terang di sana, ya, di sana di seberang, di mana kita masih harus kuat berjalan mengarungi palung dan bebatuan. Tidak mudah memang, namun teruslah berjuang.
Tawan, 16 Januari 2012
Minggu, 15 Januari 2012
HOME SWEET HOME
Coba baca Kompas tertanggal hari ini di halaman utama tentang Kenakalan Remaja yang berjudul : Iseng, Lima Siswa SMP Bakar Kelas. Berasal dari bete hingga menjadi iseng beberapa teman menjadi terpengaruh dengan seseorang yang hanya bete ga karuan. Ntahlah hanya karena bete sebabnya ataukah ada yang lain pihak kepolisian sedang taraf menyelidiki.
Namun yang ingin saya kedepankan dalam tulisan ini adalah suatu 'persahabatan' dalam kehidupan rumah tangga antar anggota keluarga. Kemaren saya menulis tentang JATUH CINTA. Setelah saya membaca komentar/ulasan dari teman-teman saya semakin mempunyai gambaran yang jelas bagaimana dan apakah itu jatuh cinta dalam setiap lapisan masyarakat. Jatuh cinta yang memiliki komitmen untuk bersama dan saling memiliki tentu membuahkan buah cinta yang kita sebut anak. Menuliskan ini membuat pandangan saya semakin kabur dengan judul di atas apabila kita melihat kenyataan hidup jaman sekarang di mana segala kegiatan menyita banyak sekali waktu bagi pasangan suami istri sehingga anak seakan menjadi pemain tunggal dalam kehidupan. Awal mula yang akrab, anak yang imut-imut, di timang dan di cium-cium kini telah menjadi momok bagi ayah bunda. Apakah benar anak yang menjadi momok? Dari mana datangnya momok? Dari mana datangnya anak?
Kecemasan manusia terhadap segala keinginan ataupun kebutuhan hidup menjadikan manusia sebagai robot kehidupan yang harus mengejawantahkan kehidupan dengan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Seakan-akan materi adalah solusi dari semua permasalahn kehidupan. Kebersamaan adalah nomor sekian, keakraban dan kasih persaudaraan semakin tipis bahkan cenderung tidak ada lagi. Masing-masing manusia dalam satu rumah tidak mempunyai waktu untuk memikirkan satu sama lain. Suami tidak mengasihi istri, istri tidak tunduk pada suami, anak tidak menghormati orang tua. Siklus seperti ini akan menjadi bumerang dan bom waktu bagi masyarakat. Sebagai contoh adalah yang dapat kita baca di koran hari ini. Hanya seorang anak yang bete, mengikutkan beberapa teman, meresahkan sekolah, masyarakat dan negara.
Semakin kita menyadari bahwa (kembali kepada budaya dan bernegara) meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat, berbudaya dan bernegara adalah berpulang kepada diri masing-masing bagaimana kita menyikapi diri kita, kehidupan sehingga dapat memberi pengaruh kepada pasangan, anak, keluarga, tetangga, masyarakat dan negara.
Sesungguhnya, bagaimanakah kita menempatkan keakraban dalam kehidupan kita sebagai keluarga di mana kehidupan yang menuntut mobilitas tinggi ini harus tetap dipertahankan atau bahkan ditingkatkan? Kembali kita berpikir ulang, sejauh mana sesungguhnya tuntutan kehidupan yang harus dipertahankan ataupun ditingkatkan? Bagaimana pikiran Anda tentang materi yang harus diberikan kepada anggota keluarga? Bagaimana Anda mengelola keakraban dalam rumah tangga?
Sedikit saya membuka kehidupan saya bersama anak saya di rumah. Dengan sadar bahwa dia adalah anak remaja yang sedang puber (kls 8) meskipun dia mempersilahkan saya bekerja namun saya harus tanggap bahwa bekerja di luar tidak akan membuat saya dan anak akan menjadi lebih baik secara kebersamaan ataupun secara ekonomi. Bukan maksud saya untuk membuat virus sehingga menjadi pemalas bahkan tidak sama sekali. Saya semakin mendekatkan diri kepada anak, share mengenai hatinya meskipun terkadang ada hal pribadi yang tidak mau dia ungkapkan, secara pribadi saya tidak mau memaksa namun keterbukaan, kejujuran dan keterusterangan yang kami bina bersama menghasilkan sikap saling percaya sehingga tidak ada rahasia yang tidak dapat diungkapkan anak saya, dengan adanya rasa saling percaya maka rasa memiliki kami semakin erat. Saya berharap banyak, budaya kita bukanlah budaya yang tidak berbudaya bahkan budaya kita mengajarkan untuk saling mengasihi dan menghormati.
Namun yang ingin saya kedepankan dalam tulisan ini adalah suatu 'persahabatan' dalam kehidupan rumah tangga antar anggota keluarga. Kemaren saya menulis tentang JATUH CINTA. Setelah saya membaca komentar/ulasan dari teman-teman saya semakin mempunyai gambaran yang jelas bagaimana dan apakah itu jatuh cinta dalam setiap lapisan masyarakat. Jatuh cinta yang memiliki komitmen untuk bersama dan saling memiliki tentu membuahkan buah cinta yang kita sebut anak. Menuliskan ini membuat pandangan saya semakin kabur dengan judul di atas apabila kita melihat kenyataan hidup jaman sekarang di mana segala kegiatan menyita banyak sekali waktu bagi pasangan suami istri sehingga anak seakan menjadi pemain tunggal dalam kehidupan. Awal mula yang akrab, anak yang imut-imut, di timang dan di cium-cium kini telah menjadi momok bagi ayah bunda. Apakah benar anak yang menjadi momok? Dari mana datangnya momok? Dari mana datangnya anak?
Kecemasan manusia terhadap segala keinginan ataupun kebutuhan hidup menjadikan manusia sebagai robot kehidupan yang harus mengejawantahkan kehidupan dengan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Seakan-akan materi adalah solusi dari semua permasalahn kehidupan. Kebersamaan adalah nomor sekian, keakraban dan kasih persaudaraan semakin tipis bahkan cenderung tidak ada lagi. Masing-masing manusia dalam satu rumah tidak mempunyai waktu untuk memikirkan satu sama lain. Suami tidak mengasihi istri, istri tidak tunduk pada suami, anak tidak menghormati orang tua. Siklus seperti ini akan menjadi bumerang dan bom waktu bagi masyarakat. Sebagai contoh adalah yang dapat kita baca di koran hari ini. Hanya seorang anak yang bete, mengikutkan beberapa teman, meresahkan sekolah, masyarakat dan negara.
Semakin kita menyadari bahwa (kembali kepada budaya dan bernegara) meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat, berbudaya dan bernegara adalah berpulang kepada diri masing-masing bagaimana kita menyikapi diri kita, kehidupan sehingga dapat memberi pengaruh kepada pasangan, anak, keluarga, tetangga, masyarakat dan negara.
Sesungguhnya, bagaimanakah kita menempatkan keakraban dalam kehidupan kita sebagai keluarga di mana kehidupan yang menuntut mobilitas tinggi ini harus tetap dipertahankan atau bahkan ditingkatkan? Kembali kita berpikir ulang, sejauh mana sesungguhnya tuntutan kehidupan yang harus dipertahankan ataupun ditingkatkan? Bagaimana pikiran Anda tentang materi yang harus diberikan kepada anggota keluarga? Bagaimana Anda mengelola keakraban dalam rumah tangga?
Sedikit saya membuka kehidupan saya bersama anak saya di rumah. Dengan sadar bahwa dia adalah anak remaja yang sedang puber (kls 8) meskipun dia mempersilahkan saya bekerja namun saya harus tanggap bahwa bekerja di luar tidak akan membuat saya dan anak akan menjadi lebih baik secara kebersamaan ataupun secara ekonomi. Bukan maksud saya untuk membuat virus sehingga menjadi pemalas bahkan tidak sama sekali. Saya semakin mendekatkan diri kepada anak, share mengenai hatinya meskipun terkadang ada hal pribadi yang tidak mau dia ungkapkan, secara pribadi saya tidak mau memaksa namun keterbukaan, kejujuran dan keterusterangan yang kami bina bersama menghasilkan sikap saling percaya sehingga tidak ada rahasia yang tidak dapat diungkapkan anak saya, dengan adanya rasa saling percaya maka rasa memiliki kami semakin erat. Saya berharap banyak, budaya kita bukanlah budaya yang tidak berbudaya bahkan budaya kita mengajarkan untuk saling mengasihi dan menghormati.
JATUH CINTA
Masa remaja yang gembira meliputi hampir seluruh anak-anak di dunia. Keceriaan seakan tak pernah habisnya, energi yang berlimpah dan pengalaman-pengalaman baru yang hilir mudik setiap hari datang menyerbu. Rasa lucu yang menggelitik apabila ada sesuatu yang di anggap aneh cepat sekali menjalar melalui hormon tubuh. Eksplorasi kebebasan dan meregangkan sikap ego, berpikir dan lain sebagainya. Yang paling mengasyikkan adalah masa mengenal lawan jenis. Malu-malu, kenalan, berdebar, menunggu si do'i datang, mampir, lewat dan sebagainya.
Tentu saja dan tentu saja bahwa masa remaja dulu dan sekarang jauh berbeda. Jaman saya yang lahir tahun tujuhpuluh satu dan menikmati masa remaja tahun delapan puluhan belum mengenal hand phone, komputer dan sebagainya. Apalagi kami tinggal di lingkungan perkebunan, maka hal yang paling mengasyikkan adalah sore-sore naik motor sekedar ngebut-ngebutan sedikitlah..hehhehe...
Bagaimana dengan jatuh cinta pada masa remaja kami? Walah walah, bagi saya secara pribadi masa remaja tidak di isi dengan jatuh cinta. Mungkin ada perasaan senang atau kagum dengan seseorang karena kepintarannya namun tidak lebih dari itu. Dengan seorang sahabat saya yang hingga sekarang masih bersahabat, kami berbisik-bisik apabila ada diklat perkebunan yang di mata terlihat sedikit ganteng daripada yang lain. Lalu kami cekikikan sambil menutup mulut agar tidak terlihat karena malu-malu.
Bagaimana dengan masa SMA? Nah ini dia, karena masa SMP saya sama sekali cuek dan hampir setiap jalan menundukkan kepala atau malah menghajar yang namanya lelaki maka saya mengambil sekolah keputrian yang tentu saja siswanya adalah putri meskipun tidak menutup kemungkinan ada juga pria di bagian busana ataupun boga, yang tentu saja menjadi bulan-bulanan bagi siswa putri, bukan untuk dijadikan pacar, tetapi menjadi permainan canda-candaan yang terkadang kelewatan. Ketika saya SMA ada beberapa anak kuliahan yang senang dengan saya, namun saya tidak mengerti apa itu jatuh cinta atau apakah itu yang namanya pacaran. Saya bingung harus bagaimana apabila mereka datang. Suatu kali ada seorang yang mungkin menganggap saya adalah pacarnya, ketika meminta ijin 'sun' pada saya alih-alih kena tampar oleh saya. hahahaha... saya geli sekali mengenangnya.
Ketika masa kuliah di Bandung saya juga super cuek dengan kata lain tidak melihat atau melirik yang namanya pria, hanya seorang yang masuk ke dalam hati saya dan sesama suku karo yang hingga sekarang masih bersahabat baik, ceileeee.... hahaha.. Itu pertama kali saya merasa ingin bermanja-manja dengan seorang pria. Namun mungkin sikap saya yang kelewat manja membuat dia juga bingung bersikap kepada saya. Walaupun sesungguhnya saya tidak tau apakah pada masa itu kami dapat disebut pacaran atau tidak, jatuh cinta atau tidak.
Setelah masa kuliah di Bandung saya ke Jakarta lalu mengenal seseorang yang saya anggap pintar. Kami berinteraksi cukup sering. Kami menjalin suatu ikatan yang orang mengatakannya pacaran, namun saya tidak tau apakah itu jatuh cinta atau tidak, apakah benar-benar saya mengasihi atau tidak, sungguh saya tidak tau. Di tengah masa hubungan itu saya pergi ke Pontianak untuk kuliah. Di kampus saya menemukan seseorang yang saya senang. Saya merasakan senang yang berbeda dengan teman-teman yang lain yang pernah saya suka. Mungkin saya jatuh cinta. Apakah saya jatuh cinta? saya tidak mengerti. Namun hubungan kami yang saya rasakan sampai ke hati mungkin itu yang di sebut jatuh cinta. Namun saya kembali ke Jakarta dan menikah dengan seseorang yang di sebut pacar yang saya tinggalkan di jakarta ketika mengambil kuliah di Pontianak.
Setelah saya menjalani kehidupan single parent beberapa pria memberi perhatian pada saya. Namun saya kurang mengerti apakah itu perasaan jatuh cinta atau sekedar kebutuhan. Pada saat-saat beberapa waktu sekarang ini ada seseorang yang masuk ke dalam hati saya. Saya sering memikirkannya bahkan air mata saya mengalir apabila merindukannya. Apakah itu jatuh cinta? Saya berharap perhatiannya sedikit pada saya agar diberikan. Namun kesibukan yang sangat menyita waktunya sehingga tidak dapat memperhatikan saya sehingga saya berpikir untuk memutuskan hubungan saja karena mungkin perasaan itu hanya egois saya saja dan bukan jatuh cinta, saya tidak tau dan saya merasa tersiksa bahkan pilu di hati.
Apakah itu jatuh cinta? Apakah Anda pernah mengalami jatuh cinta? Bisakah saudara-saudara membantu saya memberi suatu ungkapan rasa bagaimanakah itu jatuh cinta? Saya sangat takut jatuh cinta, karena jatuh cinta membuat saya menuntut seseorang dan saya menjadi sangat manja. Apakah kita perlu jatuh cinta? Saya pernah berpikir untuk menolak jatuh cinta dalam hidup saya dan membuang jauh-jauh sikap serta perasaan senang pada orang lain yang mengarah kepada keinginan untuk memiliki.
Bagaimana menurut saudara sekalian tentang jatuh cinta?
Tentu saja dan tentu saja bahwa masa remaja dulu dan sekarang jauh berbeda. Jaman saya yang lahir tahun tujuhpuluh satu dan menikmati masa remaja tahun delapan puluhan belum mengenal hand phone, komputer dan sebagainya. Apalagi kami tinggal di lingkungan perkebunan, maka hal yang paling mengasyikkan adalah sore-sore naik motor sekedar ngebut-ngebutan sedikitlah..hehhehe...
Bagaimana dengan jatuh cinta pada masa remaja kami? Walah walah, bagi saya secara pribadi masa remaja tidak di isi dengan jatuh cinta. Mungkin ada perasaan senang atau kagum dengan seseorang karena kepintarannya namun tidak lebih dari itu. Dengan seorang sahabat saya yang hingga sekarang masih bersahabat, kami berbisik-bisik apabila ada diklat perkebunan yang di mata terlihat sedikit ganteng daripada yang lain. Lalu kami cekikikan sambil menutup mulut agar tidak terlihat karena malu-malu.
Bagaimana dengan masa SMA? Nah ini dia, karena masa SMP saya sama sekali cuek dan hampir setiap jalan menundukkan kepala atau malah menghajar yang namanya lelaki maka saya mengambil sekolah keputrian yang tentu saja siswanya adalah putri meskipun tidak menutup kemungkinan ada juga pria di bagian busana ataupun boga, yang tentu saja menjadi bulan-bulanan bagi siswa putri, bukan untuk dijadikan pacar, tetapi menjadi permainan canda-candaan yang terkadang kelewatan. Ketika saya SMA ada beberapa anak kuliahan yang senang dengan saya, namun saya tidak mengerti apa itu jatuh cinta atau apakah itu yang namanya pacaran. Saya bingung harus bagaimana apabila mereka datang. Suatu kali ada seorang yang mungkin menganggap saya adalah pacarnya, ketika meminta ijin 'sun' pada saya alih-alih kena tampar oleh saya. hahahaha... saya geli sekali mengenangnya.
Ketika masa kuliah di Bandung saya juga super cuek dengan kata lain tidak melihat atau melirik yang namanya pria, hanya seorang yang masuk ke dalam hati saya dan sesama suku karo yang hingga sekarang masih bersahabat baik, ceileeee.... hahaha.. Itu pertama kali saya merasa ingin bermanja-manja dengan seorang pria. Namun mungkin sikap saya yang kelewat manja membuat dia juga bingung bersikap kepada saya. Walaupun sesungguhnya saya tidak tau apakah pada masa itu kami dapat disebut pacaran atau tidak, jatuh cinta atau tidak.
Setelah masa kuliah di Bandung saya ke Jakarta lalu mengenal seseorang yang saya anggap pintar. Kami berinteraksi cukup sering. Kami menjalin suatu ikatan yang orang mengatakannya pacaran, namun saya tidak tau apakah itu jatuh cinta atau tidak, apakah benar-benar saya mengasihi atau tidak, sungguh saya tidak tau. Di tengah masa hubungan itu saya pergi ke Pontianak untuk kuliah. Di kampus saya menemukan seseorang yang saya senang. Saya merasakan senang yang berbeda dengan teman-teman yang lain yang pernah saya suka. Mungkin saya jatuh cinta. Apakah saya jatuh cinta? saya tidak mengerti. Namun hubungan kami yang saya rasakan sampai ke hati mungkin itu yang di sebut jatuh cinta. Namun saya kembali ke Jakarta dan menikah dengan seseorang yang di sebut pacar yang saya tinggalkan di jakarta ketika mengambil kuliah di Pontianak.
Setelah saya menjalani kehidupan single parent beberapa pria memberi perhatian pada saya. Namun saya kurang mengerti apakah itu perasaan jatuh cinta atau sekedar kebutuhan. Pada saat-saat beberapa waktu sekarang ini ada seseorang yang masuk ke dalam hati saya. Saya sering memikirkannya bahkan air mata saya mengalir apabila merindukannya. Apakah itu jatuh cinta? Saya berharap perhatiannya sedikit pada saya agar diberikan. Namun kesibukan yang sangat menyita waktunya sehingga tidak dapat memperhatikan saya sehingga saya berpikir untuk memutuskan hubungan saja karena mungkin perasaan itu hanya egois saya saja dan bukan jatuh cinta, saya tidak tau dan saya merasa tersiksa bahkan pilu di hati.
Apakah itu jatuh cinta? Apakah Anda pernah mengalami jatuh cinta? Bisakah saudara-saudara membantu saya memberi suatu ungkapan rasa bagaimanakah itu jatuh cinta? Saya sangat takut jatuh cinta, karena jatuh cinta membuat saya menuntut seseorang dan saya menjadi sangat manja. Apakah kita perlu jatuh cinta? Saya pernah berpikir untuk menolak jatuh cinta dalam hidup saya dan membuang jauh-jauh sikap serta perasaan senang pada orang lain yang mengarah kepada keinginan untuk memiliki.
Bagaimana menurut saudara sekalian tentang jatuh cinta?
Langganan:
Postingan (Atom)